
Predikat underdog tidak membuat minder Aspac Jakarta kala menghadapi Satri Muda (SM) Jakarta dalam final Indonesian Basketball League (IBL) 2009. Sebaliknya, Aspac bertekad untuk melanjutkan kejutan mereka sampai ke tangga juara. Salah satu kuncinya ialah mencuri kemenangan pada game pertama di kandang SM, Britama Arena, Jakarta Utara, hari ini.
”Bermain di kandang lawan justru lebih enak bagi kami. Sebab, tekanan akan lebih besar kepada kami. Semakin tertekan motivasi kami akan semakin tinggi,” kata Irawan Haryono, manajer Aspac, kemarin.
Dalam babak berformat best of five itu, SM akan mendapatkan jatah kandang lebih banyak, yaitu tiga kali. Itu mereka peroleh karena mereka adalah tim terbaik di babak reguler dengan tak sekali pun kalah. Sementara, Garuda adalah tim peringkat ketiga yang pada final four lalu sukses menyingkirkan tim peringkat kedua Garuda Bandung.
Aspac bertekad menjadikan final kali ini sebagai momen kebangkitan. Sebagai tim yang telah dua kali menjadi juara IBL (2003 dan 2005), belakangan nama besar Aspac memang menurun. Tahun lalu Aspac gagal menembus final, digantikan Garuda.
”SM dalam pikirannya pasti lebih mempersiapkan diri melawan Garuda, bukan kami. Kami justru sebaliknya. Selain itu, kami akan main lepas di final. Karena itu, kami percaya bisa menang,” tandas Kim Hong, panggilan akrab Haryono.
SM yang membukukan juara beruntun dalam tiga tahun terakhir sadar dengan motivasi lawannya. Apalagi, Aspac diperkuat banyak pemain muda yang pastinya sangat lapar akan kemenangan.
”Segala kekurangan dan kelebihan, baik dari tim kami maupun mereka (Aspac), sudah kami evaluasi. Jadi, tidak ada masalah berarti,” yakin Dwui Eriano, manajer SM.
SM semakin percaya diri bisa mempertahankan gelar karena seluruh pemain dalam kondisi fit. Enam pemain sempat sakit di final four lalu. ”Anak-anak dalam kondisi terbaik. Lebih-lebih lima pemain utama kami yang baru pulang dari Singapura. Semangat mereka sedang naik usai bertemu Kobe Bryant,” terang Fictor Gideon Roring, pelatih SM.
